Setiap kali kami datang ke tempat itu untuk makan, aku melihat prempuan tua itu mengemis dan pasti akan mendatangi meja makan kami, papaku sering berkata: "Penyakit sosial" tapi benarkah selalu begitu? Bagaimana jikalau mereka benar benar membutuhkan pertolongan setiap hari?
Dan hari ini seorang lelaki tua, pasti jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya karena di poles oleh penampilan profesinya sebagai pengemis datang menghampiri meja makan kami, tangannya kurus, bajunya kucel dan jauh dari penampakan sejahtera. Wajahnya memelas seolah mengumpulkan seluruh penderitaan sepanjang hidup yang dia lalui, aku menggamit lengan papaku ketika lelaki tua dan nampak renta itu mengucapkan salam dengan suara lirih:

"Assalamualaikum, nak" Katanya mendatangi papaku dari samping, telapak tangannya menghadap rendah kearah kami.

Papa menoleh kepadaku sambil sedikit mencibir tapi dia mengeluarkan dompetnya juga dan mengambil uang dua ribuan, semuanya kuperhatikan: Dari cara papa menarik uang hingga cara lelaki tua berpakaian kumal putih dan berkopiah kusam itu menerima uang tersebut. Dia membungkuk bungkukan badannya mengucapkan terimakasih dan mengusap wajah seolah telah selesai berdoa dan wajahnya nampak jadi cerah.

Aku menarik tangan papaku yang sedang mencoba memasukan dompetnya kembali kedalam saku celana belakangnya sehingga dekat kepadaku dan kulihat uang didalamnya berjumlah ratusan ribu kalau bukan jutaan. Dan lelaki tadi hanya menerima 2000 rupiah? aku menengadah ke wajah papa sambil mencibirinya. Papa hanya tersenyum masam.

"Sasa,.." kata papa sambil memandang  lurus ke arah depan dimana ada telivisi di gantung buat pengunjung kafe makan dan minum. "Kadang apa yang kita lihat tidak selalu sama dengan kenyataannya"

Aku yang sedang makan hanya mendengarkan papa yang mulai mengeluarkan ceramah pilsafatnya. Sambil mengunyah makanan yang baru saja kuantar dengan sendok ke mulutku, kepalaku sengaja kuangguk anggukan.

"Mengerti mengerti...dan mengerti" gumamku sambil menelan makanan, entah mengapa papaku selalu merasa aku menertawakannya.

"Nanti papa ajak kamu masuk lorong tempat tinggal mereka naik motor" kata papa seperti menebak isi kepalaku.

Aku menoleh dan menegakan kepalaku sehingga terasa leherku memanjang: "Beneran, pa? Kapan? Ayo!"

Papa melihat ke atas telivisi dan berkata: "Agak sore-an"

"Sip, janji ya pa"

***

Sorenya setelah Ashar, setelah aku pergi belanja ke warung bersama adikku dan mama, papa benar benar menyiapkan motor dan aku langsung melompat ke boncengan. Benar setelah melewati jalan besar dan ramai kami masuk ke perumahan dengan jalan begitu sempitnya. Aku jadi berfikir, rupanya papa sering kemari dan kalau cuma menguntit seorang pengemis berarti dia orangnya kepoan. Tapi rasanya papa tidak seperti demikian orangnya. Dan ketika kami parkir papa membantu membuka helemku, aku melihat perumahan sederhana namun cukup bagus bagus di perumahan ini.

Papa memegang bahuku dan menunjuk lurus keseberang jalan kecil.

"Rumah cat abu abu dengan teralis besi" katanya.

"Rumah siapa pa?" tanyaku.

"Rumah bapak yang kita kasih uang 2000 rupiah di kafe tadilah" jawab papa.

mataku jadi menghunjam ke rumah tersebut, ada dua motor bebek di balik pagar diseberangnya ada taksi tua. Tidak lama keluar beberapa orang gadis berseragam karyawan elektronik.

"Itu ponakan ponakannya yang bekerja di pabrik perakitan Hape" papa menjelaskan.

"Oh"

"Jadi mereka bukan orang susah ya pa, sama aja seperti kita" kataku.

Papa terkekeh kekeh dan mencibiriku.  Aku hanya membesarkan bola mata tanda masih kurang puas.

"Heh apa lagi?" tanya papa.

"Lagian papa kepo amat sih, sampai nguntitin bapak itu kemari, kayak kurang kerjaan perasaan?" celaku.

Papa tertawa.

"Ceritanya panjang hampir setahun yang lalu, jadi waktu itu hari hujan, si bapak tadi mengemis di simpang jalan lampu merah. Papa kan terhenti disana karena lampunya nyala merah gak mungkin menerobos, mana semua orang buru buru juga. Jadi papa melihat bapak ini sendirian dan kedinginan sehabis mengemis papa kasian papa tawarkan tumpangan. Ya papa antar sampai ke rumah. Papa sudah pernah masuk ke rumah itu" tuturnya.

"Oh" gumamku

"ya memang gitu"sahut papa.

"Lalu bagaimana dengan ibu tua yang juga suka minta minta ke meja kita, apa dia sama juga seperti si bapak ini?" tanyaku .

Papa menggelengkan kepala dengan ragu.

"Sepertinya tidak sih. Ibu itu nampak memang orang susah" akhirnya dia berkata.

"Lalu mengapa papa juga selalu kasih 2000 ke ibu itu? Selalu 2000 dasar pelit" celaku.

Papa tertawa.

"Begini sayang, kita selalu memberikan uang kepada mereka dan itu tidak dapat menolong mereka untuk berhenti menjadi pengemis, besok mereka tetap akan datang meminta lagi, dan kita akan melihat wajah yang sama setiap hari, lalu datang lagi wajah wajah baru, diantara mereka terdapat pengemis modus yang belajar mengemis dari para seniornya karena selalu dapat uang dan akhirnya kafe tempat kita bersantai untuk makan dipenuhi oleh..." kelit papa.

Tapi penjelasannya masuk akal juga, dan aku memutuskan berhenti untuk bertanya. Aku dapat memahami seorang pria seperti papaku yang tidak pernah lepas dari logika. Tidak setiap orang seperti papaku yang mau bekerja keras sepanjang hidupnya. Dan pada akhirnya tidak semua orang nasibnya sama.

Namun ada pelajaran dalam hidup ini yang juga mengajarkan kebijaksanaan lain yang tersembunyi dan penuh hikmat: Jika engkau ikhlas memberi, maka berikanlah! Jangan berfikir bahwa pemberianmu akan sia sia, jangan berfikir bahwa dia modusin kamu. Tugasmu hanya memberi terlepas kepada siapa sebenarnya pemberianmu itu tertuju.