×
Skip to main content

PARADOX, PELAJARAN BERHARGA DALAM HIDUP

Setiap kali kami datang ke tempat itu untuk makan, aku melihat prempuan tua itu mengemis dan pasti akan mendatangi meja makan kami, papaku sering berkata: "Penyakit sosial" tapi benarkah selalu begitu? Bagaimana jikalau mereka benar benar membutuhkan pertolongan setiap hari?
Dan hari ini seorang lelaki tua, pasti jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya karena di poles oleh penampilan profesinya sebagai pengemis datang menghampiri meja makan kami, tangannya kurus, bajunya kucel dan jauh dari penampakan sejahtera. Wajahnya memelas seolah mengumpulkan seluruh penderitaan sepanjang hidup yang dia lalui, aku menggamit lengan papaku ketika lelaki tua dan nampak renta itu mengucapkan salam dengan suara lirih:

"Assalamualaikum, nak" Katanya mendatangi papaku dari samping, telapak tangannya menghadap rendah kearah kami.

Papa menoleh kepadaku sambil sedikit mencibir tapi dia mengeluarkan dompetnya juga dan mengambil uang dua ribuan, semuanya kuperhatikan: Dari cara papa menarik uang hingga cara lelaki tua berpakaian kumal putih dan berkopiah kusam itu menerima uang tersebut. Dia membungkuk bungkukan badannya mengucapkan terimakasih dan mengusap wajah seolah telah selesai berdoa dan wajahnya nampak jadi cerah.

Aku menarik tangan papaku yang sedang mencoba memasukan dompetnya kembali kedalam saku celana belakangnya sehingga dekat kepadaku dan kulihat uang didalamnya berjumlah ratusan ribu kalau bukan jutaan. Dan lelaki tadi hanya menerima 2000 rupiah? aku menengadah ke wajah papa sambil mencibirinya. Papa hanya tersenyum masam.

"Sasa,.." kata papa sambil memandang  lurus ke arah depan dimana ada telivisi di gantung buat pengunjung kafe makan dan minum. "Kadang apa yang kita lihat tidak selalu sama dengan kenyataannya"

Aku yang sedang makan hanya mendengarkan papa yang mulai mengeluarkan ceramah pilsafatnya. Sambil mengunyah makanan yang baru saja kuantar dengan sendok ke mulutku, kepalaku sengaja kuangguk anggukan.

"Mengerti mengerti...dan mengerti" gumamku sambil menelan makanan, entah mengapa papaku selalu merasa aku menertawakannya.

"Nanti papa ajak kamu masuk lorong tempat tinggal mereka naik motor" kata papa seperti menebak isi kepalaku.

Aku menoleh dan menegakan kepalaku sehingga terasa leherku memanjang: "Beneran, pa? Kapan? Ayo!"

Papa melihat ke atas telivisi dan berkata: "Agak sore-an"

"Sip, janji ya pa"

***

Sorenya setelah Ashar, setelah aku pergi belanja ke warung bersama adikku dan mama, papa benar benar menyiapkan motor dan aku langsung melompat ke boncengan. Benar setelah melewati jalan besar dan ramai kami masuk ke perumahan dengan jalan begitu sempitnya. Aku jadi berfikir, rupanya papa sering kemari dan kalau cuma menguntit seorang pengemis berarti dia orangnya kepoan. Tapi rasanya papa tidak seperti demikian orangnya. Dan ketika kami parkir papa membantu membuka helemku, aku melihat perumahan sederhana namun cukup bagus bagus di perumahan ini.

Papa memegang bahuku dan menunjuk lurus keseberang jalan kecil.

"Rumah cat abu abu dengan teralis besi" katanya.

"Rumah siapa pa?" tanyaku.

"Rumah bapak yang kita kasih uang 2000 rupiah di kafe tadilah" jawab papa.

mataku jadi menghunjam ke rumah tersebut, ada dua motor bebek di balik pagar diseberangnya ada taksi tua. Tidak lama keluar beberapa orang gadis berseragam karyawan elektronik.

"Itu ponakan ponakannya yang bekerja di pabrik perakitan Hape" papa menjelaskan.

"Oh"

"Jadi mereka bukan orang susah ya pa, sama aja seperti kita" kataku.

Papa terkekeh kekeh dan mencibiriku.  Aku hanya membesarkan bola mata tanda masih kurang puas.

"Heh apa lagi?" tanya papa.

"Lagian papa kepo amat sih, sampai nguntitin bapak itu kemari, kayak kurang kerjaan perasaan?" celaku.

Papa tertawa.

"Ceritanya panjang hampir setahun yang lalu, jadi waktu itu hari hujan, si bapak tadi mengemis di simpang jalan lampu merah. Papa kan terhenti disana karena lampunya nyala merah gak mungkin menerobos, mana semua orang buru buru juga. Jadi papa melihat bapak ini sendirian dan kedinginan sehabis mengemis papa kasian papa tawarkan tumpangan. Ya papa antar sampai ke rumah. Papa sudah pernah masuk ke rumah itu" tuturnya.

"Oh" gumamku

"ya memang gitu"sahut papa.

"Lalu bagaimana dengan ibu tua yang juga suka minta minta ke meja kita, apa dia sama juga seperti si bapak ini?" tanyaku .

Papa menggelengkan kepala dengan ragu.

"Sepertinya tidak sih. Ibu itu nampak memang orang susah" akhirnya dia berkata.

"Lalu mengapa papa juga selalu kasih 2000 ke ibu itu? Selalu 2000 dasar pelit" celaku.

Papa tertawa.

"Begini sayang, kita selalu memberikan uang kepada mereka dan itu tidak dapat menolong mereka untuk berhenti menjadi pengemis, besok mereka tetap akan datang meminta lagi, dan kita akan melihat wajah yang sama setiap hari, lalu datang lagi wajah wajah baru, diantara mereka terdapat pengemis modus yang belajar mengemis dari para seniornya karena selalu dapat uang dan akhirnya kafe tempat kita bersantai untuk makan dipenuhi oleh..." kelit papa.

Tapi penjelasannya masuk akal juga, dan aku memutuskan berhenti untuk bertanya. Aku dapat memahami seorang pria seperti papaku yang tidak pernah lepas dari logika. Tidak setiap orang seperti papaku yang mau bekerja keras sepanjang hidupnya. Dan pada akhirnya tidak semua orang nasibnya sama.

Namun ada pelajaran dalam hidup ini yang juga mengajarkan kebijaksanaan lain yang tersembunyi dan penuh hikmat: Jika engkau ikhlas memberi, maka berikanlah! Jangan berfikir bahwa pemberianmu akan sia sia, jangan berfikir bahwa dia modusin kamu. Tugasmu hanya memberi terlepas kepada siapa sebenarnya pemberianmu itu tertuju. 

Related Posts

Comments

  1. Memberilah dengan iklas, maka hatimu akan dipenuhi kebahagiaan. He..he... Bener tuh, kalau mau membantu, memberi, ya silahkan jangan mikir yang dibantu cuma pura-pura susah. Yang penting kitanya nggak pura-pura nolong.

    ReplyDelete
  2. renungan mendalam.
    Bermanfaat.
    Thank you for sharing

    ReplyDelete
  3. Pernah juga denger cerita orang membuntuti seorang pengemis, ternyata rumahnya bagus nggak seperti yg dibayangkan. Apakah itu wujud dari sebuah kesuksesan dlm suatu pekerjaan?

    ReplyDelete
  4. saya rasa itu ada benarnya: mengemis mengumpulkan uang dan berhemat, lalu bekerjasampingan juga dan setiap tahun pulang kampung naik pesawat :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Minggu ini:

OPPO find X Harga dan spesifikasi

Tahun 2018 ditandai dengan persaingan sengit produsen ponsel. Jika selama ini ponsel high end itu identik dengan produkanya Apple dan Samsung maka kali ini, produsen dan manufaktur Cina mulai bermain di level high-end dan terlihat dengan tampilnya OPPO memamerkan produk flagship mereka di ajang pameran bulan lalu di Paris. Sambutan orang orang Eropa tidak buruk. Find X nampaknya sukses mendapatkan perhatian.

Jika dilihat dari harga yang di patok untuk Eropa yang di patok 999 euro atau setara dengan 16.2 Juta rupiah pada waktu itu (Untuk global lebih murah yakni pada kisaran harga 770 Euro atau setara dengan 12.907.702,5,-) , menandakan produsen dan manufaktur Cina yang satu ini telah keluar dari tradisi membuat dan menjual ponsel kelas menengah kebawah dengan harga murah, yang menjadi pertanyaan apakah Xiomi, Huawei, dan produsen negera tirai bambu terkemuka lainnya akan berlomba lomba membuat dan menjual ponsel high end? Kita tunggu.

Yang unik pada Oppo find X adalah fitur mekanis ka…

CARA MENGHADAPI IBU YANG MARAH

Orang tua terutama ibu adalah wanita yang paling penting dalam hidup manusia, seorang ibu terikat oleh naluri cinta kasih yang membuatnya tidak berdaya selain berkorban demi anak anaknya. Bukan hanya manusia, semua makhluk hidup terutama apabila dia adalah seorang wanita suatu waktu kelak akan terikat oleh perasaan yang tidak bisa dilawan ini: Naluri menjadi seorang ibu.

Kita perhatikan induk ayam yang sibuk membuka sayapnya lebar lebar di tengah hujan deras demi melindungi anak anaknya. Kedua sayap yang di lebar kan menjadi payung sementara kepalanya sendiri tidak ter-lindung oleh terpaan hujan yang dingin.

Jadi sangat tidak pantas bahkan sangat besar dosanya bagi seseorang yang melawan seorang ibu yang telah melahirkan kita dari rahimnya, apalagi sampai menyakiti hatinya.

DENGARKAN, KURANGI MENJAWAB: TIDAK, BANYAKIN MENJAWAB: YA

Apapun alasannya, jauh di lubuk hati seorang ibu menginginkan anak anaknya menjadi orang berguna dan mampu menghadapi pahit getirnya kehidupan kelak apabila…