×
Skip to main content

KISAH BUTIRAN WAKTU 2

Malam dingin menyelimuti dusun dikaki gunung. Angin bagai membeku diselimuti embun, disebuah gubuk nampak cahaya berkelip kelip dari tungku masak, seorang ibu muda yang sedang hamil terdengar membujuk anak prempuannya yang sedang kelaparan.
"Ade sabar ya sayang, ibu sedang masak" katanya
"Tapi kok lama sekali masaknya, ade sudah lapar sekali" rengek anak prempuan berwajah manis semanis ibunya itu.
"Ya makanya ade tidur dulu, nanti kalau ayah pulang, kita makan bersama" bujuknya sambil mengusap kepala kecil berambut ikal yang sedang terbaring lemah dilantai kayu beralas pelastik kusam.
Anak prempuan itu tersenyum manis membayangkan akan makan bersama kalau ayahnya nanti sudah pulang.

Sesungguhnya sejak dari tadi berkali kali dia membuka jendela dan memandang cemas keluar. Diluar sana, diujung jalan setapak hanya gelap dan waktu merambat menuju penghujung malam. Entah mengapa tidak seperti biasanya suaminya pulang terlambat setelah bekerja sebagai buruh kebun pada seorang penduduk dusun tetangga. Entah mengapa dia begitu takut dan cemas malam ini ketika menunggu suami tercinta.

Ditungku masak yang sedang dia jaga nyala apinya dengan ranting ranting kering yang tadi siang dikumpulkan hanya ada kuali berisikan air, berkali air itu dia tambahkan agar tidak kering, tidak ada beras untuk ditanak. Dia terpaksa berbohong agar anak prempuannya tidur dan tidak rewel sembari menunggu suaminya pulang membawa makanan.

Anak prempuan itu akhirnya tertidur, dan karena mengantuk perlahan dia membaringkan tubuhnya dan dia akhirnya tertidur juga disamping gadis kecilnya. Dalam tidur dia bermimpi buruk:

Dia seolah mendengar kentongan ditabuh, obor obor menerangi malam bagai berlari diatas rumput berembun dan teriakan gaduh: "Maling! Maling! Maling!" Seorang lelaki muda bertubuh kurus berlari terengah engah membawa buntalan kecil. Dia sedang tersudut dan mencoba meloloskan diri dari orang orang yang sedang marah, namun apa daya dia kehabisan tenaga, dia merasakan kesakitan ketika beberapa benda keras mulai menghunjam ditubuhnya,  sia sia usahanya meminta belas kasihan dan sia sia tangannya melindung tubuhnya, dia seperti seekor domba yang sedang dimangsa segerombolan srigala liar. Lalu semuanya menjadi gelap.

Sesosok tubuh terkapar di tengah orang orang yang mulai mereda kemarahannya dan mulai terkejut. Diterangi obor seseorang meyeruak kerumunan dan mengenali sosok berlumuran darah dan kini sudah tidak bergerak itu:
"Cepat angkat!!! Ini Usman!" mereka terkejut karena mengenalnya.
Usman terkenal lelaki muda yang baik dan rajin ibadah, selama ini walaupun hidup miskin dia tidak pernah menyusahkan orang lain. Beberapa orang memeriksa buntalan kecil berisi umbi yang baru dicabut yang masih erat dipegang lelaki muda malang itu.
"Ya Tuhan, dia hanya membawa sekantong ubi" teriak lelaki itu panik.
Tadinya mereka menyangka dia pencuri karena memasuki kebun singkong orang lain. Pemilik kebun yang sedang berjaga, mengejarnya karena melihat dia sedang mencabut tanaman singkongnya dan meneriakinya maling.

Sampai disitu siibu muda terbangun dengan jantung berdebar debar kencang seperti mau pecah. Diluar gubuk itu tiba tiba terdengar suara ramai dan pintu diketuk:
"Surti, surti! buka pintu!"
Mereka membawa sesosok tubuh berlumuran bekas darah dan sudah tidak bergerak. Siibu muda melihat semuanya bagai lanjutan mimpi buruk yang tidak berakhir itu mematung dihadapan tubuh lelaki yang amat dkenal dan dicintainya, yang kini terbaring dilantai dan tidak bergerak.

Anak prempuannya terbangun berusaha bangkit dengan lemas, dan bertanya: "ibu, ayah sudah pulang?"...beberapa menit kemudian keheningan pecah oleh tangis hesteris prempuan dari gubuk kesedihan itu....

Beberapa hari setelah peristiwa itu orang orang dusun masih melihat ibu muda hamil itu menggandeng tangan anak prempuannya di kuburan suaminya. Beberapa saat mereka terlihat berdiri sedih disana hingga menjelang senja.

Gubuk itu kini telah kosong, namun masih ada tumpukan singkong itu dekat tungku yang berdebu dan tidak pernah sekalipun dimakan. Menurut beberapa orang ibu dan anak prempuannya itu kini telah pergi kekota dan menjadi pengemis disana....
Sumber: FansPage Anissa Auliasari

Related Posts

Comments

  1. Tersedu melihat menghayati ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku menyadurnya dari sebuah buku tua dan menulis ulang dengan perasaanku sendiri. sudah jauh dari aslinya boleh dikatakan cerpen ini "terispirasi" berat Kisah dari buku tua itu.

      Waktu itu aku sesak membayangkan tragedi kemanusiaan yang tidak pernah Habis.

      Delete
    2. Ya, dan saya hanya mencopy-pastekannya dari halaman Anissa ke blog ini. Tapi sudah diatas persetujuan, lho.

      Delete

Post a Comment

Popular Minggu ini:

OPPO find X Harga dan spesifikasi

Tahun 2018 ditandai dengan persaingan sengit produsen ponsel. Jika selama ini ponsel high end itu identik dengan produkanya Apple dan Samsung maka kali ini, produsen dan manufaktur Cina mulai bermain di level high-end dan terlihat dengan tampilnya OPPO memamerkan produk flagship mereka di ajang pameran bulan lalu di Paris. Sambutan orang orang Eropa tidak buruk. Find X nampaknya sukses mendapatkan perhatian.

Jika dilihat dari harga yang di patok untuk Eropa yang di patok 999 euro atau setara dengan 16.2 Juta rupiah pada waktu itu (Untuk global lebih murah yakni pada kisaran harga 770 Euro atau setara dengan 12.907.702,5,-) , menandakan produsen dan manufaktur Cina yang satu ini telah keluar dari tradisi membuat dan menjual ponsel kelas menengah kebawah dengan harga murah, yang menjadi pertanyaan apakah Xiomi, Huawei, dan produsen negera tirai bambu terkemuka lainnya akan berlomba lomba membuat dan menjual ponsel high end? Kita tunggu.

Yang unik pada Oppo find X adalah fitur mekanis ka…

PARADOX, PELAJARAN BERHARGA DALAM HIDUP

Setiap kali kami datang ke tempat itu untuk makan, aku melihat prempuan tua itu mengemis dan pasti akan mendatangi meja makan kami, papaku sering berkata: "Penyakit sosial" tapi benarkah selalu begitu? Bagaimana jikalau mereka benar benar membutuhkan pertolongan setiap hari?
Dan hari ini seorang lelaki tua, pasti jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya karena di poles oleh penampilan profesinya sebagai pengemis datang menghampiri meja makan kami, tangannya kurus, bajunya kucel dan jauh dari penampakan sejahtera. Wajahnya memelas seolah mengumpulkan seluruh penderitaan sepanjang hidup yang dia lalui, aku menggamit lengan papaku ketika lelaki tua dan nampak renta itu mengucapkan salam dengan suara lirih:

"Assalamualaikum, nak" Katanya mendatangi papaku dari samping, telapak tangannya menghadap rendah kearah kami.

Papa menoleh kepadaku sambil sedikit mencibir tapi dia mengeluarkan dompetnya juga dan mengambil uang dua ribuan, semuanya kuperhatikan: Dari cara papa me…

CARA MENGHADAPI IBU YANG MARAH

Orang tua terutama ibu adalah wanita yang paling penting dalam hidup manusia, seorang ibu terikat oleh naluri cinta kasih yang membuatnya tidak berdaya selain berkorban demi anak anaknya. Bukan hanya manusia, semua makhluk hidup terutama apabila dia adalah seorang wanita suatu waktu kelak akan terikat oleh perasaan yang tidak bisa dilawan ini: Naluri menjadi seorang ibu.

Kita perhatikan induk ayam yang sibuk membuka sayapnya lebar lebar di tengah hujan deras demi melindungi anak anaknya. Kedua sayap yang di lebar kan menjadi payung sementara kepalanya sendiri tidak ter-lindung oleh terpaan hujan yang dingin.

Jadi sangat tidak pantas bahkan sangat besar dosanya bagi seseorang yang melawan seorang ibu yang telah melahirkan kita dari rahimnya, apalagi sampai menyakiti hatinya.

DENGARKAN, KURANGI MENJAWAB: TIDAK, BANYAKIN MENJAWAB: YA

Apapun alasannya, jauh di lubuk hati seorang ibu menginginkan anak anaknya menjadi orang berguna dan mampu menghadapi pahit getirnya kehidupan kelak apabila…