Adik prempuanku,

kamu hancurkan hati abang hingga hari berganti hari, abang tidak lupa tapi kamu mungkin telah lupa ketika dua orang bocah kecil ditinggalkan dalam ketakutan dijalanan yang menderu dan penuh kotoran debu. Tapi engkau mungkin masih ingat betapa bingungnya abang yang masih kecil meredam tangis dan kepanikanmu. Abang hanya bisa memelukmu dalam ketidak mengertian hidup yang masih butuh banyak belajar.

Kita akhirnya berjalan tanpa tujuan dari taman ke taman kota dan mulai merasa lapar. Banyak mereka yang tidak perduli kepada sepasang bocah kecil dekil yang melihat betapa nikmatnya orang makan, melihat anjing dan kucing makan. Akhirnya kita melihat bocah bocah seperti kita meminta minta, atau memungut makanan dijalan, hanya itu bisa kita lakukan adikku sayang. Dan kitapun mulai seperti mereka walau kadang harus lari untuk menghindari usiran dan pukulan tetapi mulai saat itulah abang mulai belajar melindungimu.

Dan dunia terasa semakin kejam ketika matahari meninggi, ketika lalat lalat beterbangan ketika engkau tertidur di emper-emper toko milik orang,  abang mencoba mencari sisa makanan. Abangmu ini merasa sangat kehausan, abang pikir kamu juga pasti ingin minum setelah terbangun nanti.

Abang pergi dengan harapan ketika abang kembali engkau belum terbangun, namun ketika abang kembali engkau telah tiada. Abang bingung, air minum sisa yang abang pungut masih ditangan abang, abang mulai berteriak memanggil manggil namamu tapi engkau sudah tidak ada. Abang marah, kesal dan sangat kuatir.

Sepanjang malam abang berjalan entah berapa gedung terlewati, hati abang sedih dan sangat kehilangan. Saat kehilangan abang yang belum mengerti apa apa ini melihat kelangit kepada rembulan, bintang bintang, abang jadi teringat ibu. Ketika kita masih lengkap, ketika kehangatan keluarga ditingkahi teriakan dan tawamu dan tawaku adikku, dan tanpa terasa abang menangis terisak isak, seperti abang belum mengerti mengapa dunia juga tidak mengerti kesedihan seorang bocah 4 tahun.

Waktu itu ayah pergi untuk selamanya, kita melihat dia dikuburkan tapi kita tidak terlalu bersedih karena ada ibu yang memeluk kita.

Kita masih belum bersedih ketika perlahan lahan hidup kita berubah semakin sulit dan kita masih bercanda ria ketika ibu meninggalkan kita diemper sebuah toko dengan janji akan kembali sebentar saja. Kita baru menangis ketika dia tidak pernah kembali. Dia telah meninggalkan kita. Dan kita tidak pernah mengerti bagaimana perasaannya ketika itu. Dan selama ini kita melanjutkan hidup kita berdua. Yang abang mengerti hanyalah hanya kamu adikku satu satunya yang masih abang miliki di dunia yang kejam ini.

Abang kini sangat kehilangan, dimana kini kamu adikku? Hanya kamu yang masih tersisa dalam hidup abang, mengapa kamu tidak menunggu abang?

Ditulis-ulang dan diterbitkan sepenuhnya via ponsel OPPO
Sumber: fans page Anissa Sufyan